Menu
Caring For Your Heart

Pengobatan untuk Gagal Jantung Lanjutan

Bapak M, berusia 60 tahun dan tengah menantikan masa pensiun, setelah bekerja keras sepanjang hidupnya dan membesarkan anak-anaknya dengan baik. Memiliki postur tubuh sedang, fit dan sehat, tidak pernah perlu untuk ke dokter, tidak merokok maupun minum alkohol dan memiliki gaya hidup sehat. Namun baru-baru ini, beliau merasakan nafas yang lebih pendek, sehingga dia memiliih untuk beraktifitas di lantai dasar rumah ketimbang di lantai atas karena harus naik tangga. Juga selalu merasa lelah dan kehilangan energi untuk bermain bersama cucu-cucunya, padahal kegiatan tersebut amat dinantikan saat pensiun tiba. Suatu malam, Bapak M terbangun karena kesulitan bernafas dan dia merasa takut. Sang istri langsung menelpon ambulans karena khawatir.

Di rumah sakit, diagnosa yang diperoleh adalah Congestive Cardiac Failure atau gagal jantung. Jantungnya amat lemah sehingga tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh dan alirah darah melambat pada bagiankiri jantung, sehingga menyebabkan penyumbatan di paru-paru. Tidur dengan posisi terletang menjadi sulit karena tidak bisa bernafas. Kedua kaki dan abdomen membengkak karena penumpukan cairan. Sebelumnya beliau berpikir hal tersebut terjadi karena usia tua, namun sekarang beliau mengetahui akibat dari lemah jantung. Organ vital termasuk ginjal tidak menerima cukup aliran darah. Karena ginjal tidak berfungsi maksimal sehingga tidak dapat membuang cairan dengan benar, oleh karena itulah tubuh membengkak.

Dokter memberikan pengobatan untuk membuang cairan lebih dalam tubuh, juga obat untuk meningkatkan fungsi jantung. Untuk mengetahui penyebab dari lemah jantung, dilakukan pemeriksaan Echocardiography (sejenis Ultrasound untuk jantung) and Coronary Angiography. Hasil Echocardiography menunjukkan jantung klien saya hanya berfungsi seperempat dari normal – LVEF 15% (normal 60%). Sementara Coronary Angiography memberikan hasil yang mengejutkan yakni tidak tampaknya penyumbatan. Penyumbatan arteri merupakan salah satu penyebab umum dari penyakit jantung dan gagal jantung pada pria, namun tidak tertutup adanya penyebab lain. Besar kemungkinan klien saya menderita infeksi viral beberapa bulan lalu yang berpengaruh pada jantung, sehingga kondisinya melemah sampai ke tahap sekarang.

Kondisi Jantung Normal
Kondisi Jantung Lemah yang Parah

Setelah menjalani rawat inap dan memperoleh beberapa obat, serta perjanjian dengan spesialis jantung. Namun, gejala kembali tidak lama setelah keluar rumah sakit. Bapak M mengalami sesak napas, bengkak pada kaki juga kembali dan tidak dapat tidur terletang. Di rumah sakit, dia memperoleh perawatan dan pengobatan yang sama, dan keluar setelah beberapa hari rawat inap. Siklus tersebut berulang beberapa kali dan Bapak M bingung mengapa kesehatannya tidak membaik. Hal tersebut membuat depresi dan istrinyapun berhenti tersenyum. Riuh tawa dari cucu Bapak M juga hilang karena tidak lagi tinggal bersama, akibat dia terlalu letih untuk mengurus mereka dan istrinya harus mengurus Bapak M.

Saat pertama kali bertemu, Bapak M telah mengalami kondisi diatas selama 6 bulan dan sudah kebilangan harapan sembuh. Kerja keras tahunan yang dijalaninya tampak tidak berguna. Secara kebetulan, untuk pertama kalinya ambulans membawanya ke rumah sakit tempat saya praktek. Seperti prosedur sebelumnya, beliau menjalani perawatan untuk membuang cairan lebih (diuretic). Perlu diingat, prosedur ini tidak direkomendasikan untuk dilakukan beberapa kali karena pengobatan diuretic dosis tinggi dapat mengurangi efek dalam tubuh. Dokter rumah sakit lain tidak salah memberikan pengobatan. Yang menjadi masalah adalah Bapak M mengalami gagal jantung yang lebih parah dari kebanyakan pasien. Tanpa pengalaman klinikal yang memadai, dokter tersebut tidak dapat disalahkan karena hanya memberikan terapi/pengobatan standard.

Saya menyelesaikan pelatihan setahun penuh Fellowship in Heart Failure and Cardiac Transplantation di Cleveland Clinic di Ohio, Amerika Serikat, dikenal sebagai rumah sakit top di Amerika untuk pengobatan masalah jantung, dan telah menerima penghargaan selama 19 tahun berturut-turut sejak 1994. Tiap tahun, rumah sakit tersebut melakukan banyak implan jantung dan implan Left Ventricular Assist Device (LVAD) – alat sirkulasi peredaran darah mekanis yang digunakan untuk menggantikan sebagian atau seluruh fungsi dari jantung yang bermasalah, selain itu juga menjadi acuan dari berbagai praktek klinis di seluruh dunia melalui penelitian dan artikel. Dokter dan rumah sakit di Amerika dan di berbagai belahan dunia akan merujuk pasien yang memiliki masalah jantung paling parah ke Cleveland Clinic. Bahkan rumah sakit bergengsi di Amerika seringkali angkat tangan dan merujuk pasien ke rumah sakit ini. Saya beruntung karena memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam merawat dan mengobati pasien yang terparah, dan terkadang menyaksikan keajaiban kesembuhan dari kematian yang amat pasti.

Saya segera mengenali kondisi Bapak M, yakni End-Stage Heart Failure/gagal jantung tahap akhir dan pengobatan rutin saja tidak cukup untuk membantu mengatasi masalah jantung dan organ vital lainnya. Untuk memastikan hal tersebut, saya melakukan katerisasi dan meneliti jantung bagian kanan untuk mengetahui kondisi objektif fungsi jantung termasuk outputnya. Prosedur ini merupakan standard emas untuk mengukur fungsi jantung. Jantung Bapak M dalam kondisi kritis karena hanya mampu memompa 2 liter darah/menit, dimana jantung normal mampu memompa darah 4-6 liter/menit. Hal ini menyebabkan fungsi organ tubuhnya terganggu dan hasil tes darah menunjukkan penurunan fungsi ginjal. Beliau kesulitan berkonsentrasi dan tidak dapat lagi berpikir jernih seperti sebelumnya. Berkurangnya kemampuan jantung memompa darah akan berpengaruh pada fungsi otak.

Idealnya, Bapak M melakukan transplantasi jantung untuk mengembalikan fungsi jantung menjadi normal. Pasien yang sukses melakukan transplantasi jantung, memiliki usia harapan hidup 10 tahun atau lebih, bahkan dapat mencapai 20 tahun. Namun, karena implant jantung dianggap “benda asing” oleh tubuh pasien, maka tubuh tidak menerima, dimana kondisi tersebut dikenal dengan “penolakan”. Penolakan tersebut akan membuat jantung transplantasi melemah dan pasiek akhirnya tidak terselamatkan. Untuk mencegah penolakan, pasien harus mengkonsumsi obat setiap hari tanpa putus untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Pengobatan itu juga akan membawa berbagai efek samping potensial lain. Untuk transplant, pasien harus menunggu karena tidak bisa dipesan sebelumnya atau berharap pada pasien yang sedang sekarat. Terkadang factor kepercayaan/agama dan filosofi juga menjadi pertimbangan dalam hal transplantasi.

Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan memasang Left Ventricular Assist Device (LVAD), agar jantung dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Alat pemompa jantung sudah ada sekitar 50 tahun, namun baru-baru ini saja alat yang lebih kecil, tahan lama dikembangkan. Pompa jantung memiliki 2 kelemahan: penggumpalan darah dalam alat dan infeksi akibat benda asing dalam tubuh. Kedua hal tersebut dapat diminimalisasi dengan Thoratec HeartMate II LVAD. Sejak 2005, 15.000 implan telah dilakukan diseluruh dunia. Periode terlama seorang pasien menggunakan pompa jantung saat ini adalah lebih dari 8 tahun. Pompa dipasang pada jantung dan ujung kabel power keluar melalui abdomen untuk tersambung ke batere. Anda dapat saja berpapasan dengan individu yang menggunakan LVAD tanpa menyadari bahwa mereka menggunakan pompa jantung. Masalah terbesar dari lata ini adalah harga yang amat mahal.

Saya membagi informasi tersebut dengan Bapak M dan keluarga, dan setelah sekian lama, beliau melihat adanya sedikit harapan. Informasi saya berikan sejelas mungkin berikut dengan risiko yang mungkin terjadi, karena saya tidak ingin harapan beliau melambung tinggi. Beliau ingin kembali merasakan hidup normal dan menyetujui prosedur implant jantung. Namanya dimasukkan kedalam daftar setelah dievaluasi oleh Tim Transplantasi Jantung. Tapi apa yang dapat dilakukan sementara beliau menunggu donor?

Dengan Bapak M, kami mendiskusikan mengenai jantungnya yang lemah sehingga besar kemungkinan dia akan kembali drawat-inap dengan gejala yang sama. Pengobatan melalui infus untuk membuat jantung lebih kuat (inotrope) hanya bersifat temporer, sehingga banyak pasien menjadi ketergantungan pada inotrope. Mengapa tidak memberikan obat tersebut secara terus menerus dan menghindari transplantasi jantung yang berisiko atau pompa jantung yang sangat mahal? Pertanyaan yang sama diajukan para dokter beberapa tahun lalu dan banyak studi yang mengkonfirmasi bahwa hal sepertinya ide yang baik.

Namun hasil tidak sesuai apa yang diharapkan oleh para dokter. Pasien yang diberikan inotrope (contoh: as Dobutamine atau Milrinone), hanya membaik sesaar tapi memiliki risiko kematian lebih tinggi. Hal ini dikarenakan jantung yang lemah, memberikan stimulan agar jantung bekerja lebih cepat sebenarnya hanya akan membuat jantung tertekan/stres, sehingga memperbesar kemungkinan detak jantung tidak normal, serangan jantung dan kematian tiba-tiba.

Dengan kemajuan riset saat ini, tipe pengobatan inotrope yang bekerja secara berbeda dari sebelumnya telah tersedia. Meskipun tetap inotrope, namun tidak membuat jantung stress. Cara kerjanya adalah meningkatkan sensifitas otot jantung terhadap kalsium, yang penting agar jantung dapat memompa. Oleh karena itu pengobatan ini disebut “Calcium-Sensitiser”.

Bapak M kembali menjalani rawat inap akibat Congestive Cardiac Failure/gagal jantung. Kali ini beliau memutuskan untuk menjalani katerisasi jantung kanan dan infuse Calcium-Sensitiser, disebut Levosimenda. Karena termasuk obat keras, infuse dilakukan di ruang gawat darurat dengan pengawasan berkesinambungan dan menggunakan standard emas untuk mengukur fungsi jantung. Infusi dapat dilakukan selama 1-3 hari, dimana saya menganjukan Bapak M untuk melakukan infusi Levosimendan selama 24jam. Terkadang infuse dapat menyebakan detak jantung tidak teratur. Bapak M beruntung karena semua berjalan mulus dan beliau dapat pulang setelah beberapa hari.

Bapak M kembali menemui saya setelah beberapa bulan. Beliau nampak bahagia dan mulai kembali menikmati hidup. Tidak ada lagi kaki yang membengkak. Beliau amat memperhatikan kesehatan dan mengkonsumsi seluruh obat yang dianjurkan. Yang berbeda adalah tidak ada lagi rawat inap semejak beliau memperoleh infusi Levosimendan. Setahun kemudian, Bapak M tidak lagi masuk dalam daftar tranplantasi karena beliau tidak lagi menunjukkan gejala gagal jantung. Beliau dapat berjalan tanpa merasa kebahisan nafas. Echocardiogram lanjutan menunjukkan jantung yang masih lemah, dengan kemampuan memompa darah 15-20%, dimana normalnya adalah 60%. Namun jantungnya telah mampu beradaptasi dengan kondisi lemah dibantu oleh pengobatan optimal. Saya tidak ragu bahwa faktor penting dari infusi Levosimendan yang membuat perbedaan. Bapak M masih harus minum obat setiap hari dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Namun demikian, beliau tidak lagi berkutat dengan rawat inap. Sekarang beliau dapat kembali merasakan masa pension dan yang paling penting, bermain bersama para cucu serta menikmati tawa mereka.

Temui spesialis segera jika Anda merasakan nafas pendek atau sakit pada dada atau khawatir dengan masalah kesehatan jantung Anda.


Profil Penulis:
Dr. Daniel Yeo Poh Shuan
MBBS (Western Australia), MRCP (UK), FRCP (Edinburgh),
FAMS (Cardiology), FACC (USA), Diplomate ASCeXAM (NBE, USA)
Konsultan Kardiologi
Echocardiologis Bersertifikasi dari Dewan
Spesialis Gagal Jantung
Dr. Daniel Yeo meraih gelar MBBS dari University of Western Australia pada April 1999. Setelah menyelesaikan pelatihan dasar di Sir Charles Gairdner Hospital, Western Australia, pada 2002, beliau kembali ke Singapura dan bergabung dengan Rumah Sakit Tan Tock Seng dan turut membantu pasien SARS saat virus tersebut merebak tahun 2003, sehingga memperoleh penghargaan Courage Star dari Presiden Singapura. Pada 2004, Dr. Yeo memperoleh Membership of the Royal College of Physicians (United Kingdom) dan menyelesaikan Pelatihan Spesialis Lanjutan di bidang Kardiologi di tahun 2007, dan memperoleh akreditasi penuh sebagai Spesialis Kardiologi dari Kementrian Kesehatan Singapura dan Konsil Medis Singapura. Beliau terpilih menjadi Fellow of the Academy of Medicine, Singapore pada tahun 2008 dan saat ini menjabat sebagai Wakil Pengurus Dewan Pengurus Kardiologis.

Dr. Yeo merupakan ahli di bidang Echocardiography, pengobatan Gagal Jantung dan penyakit jantung lain. Beliau telah melakukan Trans-Oesophageal Echocardiography, Ultrasound-guided Pericardiocentesis, Haemodynamic Tailored Therapy untuk Gagal Jantung, Terapi Iron-repletion dan Biopsi Endomyocardial. Prosedur diatas merupakan tambahan dari prosedur standar Kardiologi yang ada seperti: Echocardiography Trans-Thoracic, Stress Echocardiography, Treadmill Stress Test, 24-hour ECG monitoring (Holter), 24-hour Blood Pressure monitoring, Coronary Angiography dan Terapi Intra-Aortic Balloon Counterpulsation.

Beliau selalu berusaha memahami kecemasan pasien dan memberikan pengobatan pada tiap pasien sebagai individu yang unik. Beliau mengobati pasien berdasarkan bukti dan pengobatan kolaboratif sehingga diperoleh jantung sehat untuk tiap pasien

Untuk pendaftaran dan keterangan lebih lanjut, silahkan menghubungi melalui email ApexHeartClinic@gmail.com; atau telepon +65-64797928. Terima Kasih Banyak.